Perahu Sleret “Besuki 1” Karam di Laut Gundil, 21 ABK Selamat – Evakuasi Terkendala Kedalaman
SITUBONDO, – Suasana haru dan tegang menyelimuti kawasan pesisir Besuki Minggu (22/6) sekitar jam 21:00 WIB setelah sebuah kapal sleret penangkap ikan bernama “Besuki 1” dilaporkan karam di perairan Laut Gundil, sekitar 35 mil dari garis pantai. Lokasi karam berada di titik yang dikenal berarus cukup deras, dengan kedalaman laut mencapai kurang lebih 50 meter.

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh kapal nelayan lain, “Mampu 6”, yang saat itu sedang melakukan penangkapan ikan di sekitar lokasi. Awak kapal Mampu 6 melihat tanda-tanda keberadaan perahu yang karam dan kemudian segera mengirimkan informasi ke pihak darat serta memberikan bantuan awal.
Kapal Besuki 1 diketahui mengangkut 21 Anak Buah Kapal (ABK) saat berangkat melaut. Meski sempat terjadi kepanikan akibat kondisi kapal yang tenggelam cukup cepat, seluruh ABK dilaporkan berhasil selamat. Sejumlah awak diselamatkan langsung oleh Mampu 6, sementara lainnya sempat bertahan menggunakan alat bantu darurat hingga bantuan tiba.
Setelah laporan diterima pada pukul 06.00 WIB, sejumlah instansi langsung bergerak cepat. Unsur gabungan yang terdiri dari:
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo, Koramil dan Polsek Besuki, Satpolairut dan Pangkalan TNI AL (Lanal), TAGANA, serta Dinas Sosial Kabupaten Situbondo, langsung menuju titik koordinat karamnya kapal.
Tim gabungan menghadapi tantangan cukup serius. Kedalaman laut yang mencapai 50 meter, minimnya peralatan berat untuk pengangkatan di laut dalam, serta kondisi cuaca yang tidak stabil menjadi kendala utama dalam proses evakuasi bangkai kapal.
Meski seluruh ABK selamat, upaya untuk mengamankan bangkai kapal tetap menjadi prioritas. Selain sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan Nelayan dan lingkungan, evakuasi juga diperlukan untuk menghindari risiko pencemaran atau gangguan nelayan lain di perairan tersebut.
Sejumlah personel penyelam dari Polairut dan Lanal dilaporkan telah melakukan penyisiran bawah laut. Namun, hingga siang hari, proses evakuasi belum menunjukkan hasil signifikan karena keterbatasan alat berat bawah laut di wilayah Situbondo.
Eko s.

