Kendaraan Sampah DLH Jadi Pengangkut Sembako, Sungai Jadi Korban
SITUBONDO – Dugaan penyalahgunaan fasilitas negara. Kendaraan roda tiga operasional milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang seharusnya menjadi ujung tombak kebersihan, justru terlihat beralih fungsi menjadi angkutan logistik pribadi.

Berdasarkan temuan di lapangan, kendaraan roda tiga bernomor polisi P 2554 EP yang jelas-jelas berlogo “Kendaraan Operasional Dinas Lingkungan Hidup” dan merupakan bantuan dari Dana Aspirasi (Jasmas), kedapatan tidak digunakan untuk mengangkut sampah warga. Ironisnya, unit tersebut justru digunakan untuk mengangkut sembako dan kebutuhan warung.
Penyimpangan fungsi ini memicu pertanyaan warga karena berbanding terbalik dengan kondisi kebersihan lingkungan sekitar. Saat kendaraan dinas tersebut “sibuk” melayani kepentingan bisnis warung, sampah domestik di Sumberkolak justru terbengkalai.

Diduga akibat tidak berjalannya fungsi pengangkutan sampah oleh unit operasional tersebut, masyarakat yang tidak memiliki pilihan akhirnya membuang sampah ke aliran sungai.
Pencemaran Air: Sampah plastik dan limbah rumah tangga kini menumpuk di sungai, menciptakan risiko banjir dan sarang penyakit.
Dampak Ekologi: Perilaku buang sampah ke sungai ini secara jangka panjang akan merusak ekosistem air di wilayah Panarukan.
Kendaraan operasional ini dibeli menggunakan uang rakyat melalui jalur Jasmas dengan tujuan mulia: menjaga kebersihan desa. Pengalihan fungsi dari pengangkut sampah menjadi pengangkut sembako adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik dan merupakan pelanggaran administrasi penggunaan aset daerah.
Warga mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Situbondo untuk:
Melakukan Evaluasi: Meninjau kembali kelompok atau oknum yang dipercaya mengelola unit kendaraan tersebut.
Sanksi Tegas: Menarik kembali fasilitas jika terbukti digunakan secara pribadi dan tidak sesuai peruntukannya.
Solusi Nyata: Memastikan sampah di Sumberkolak segera terangkut agar sungai tidak lagi menjadi korban pembuangan sampah liar.
Jangan sampai anggaran negara yang digelontorkan untuk kebersihan justru “menguap” menjadi keuntungan pribadi, sementara alam Situbondo dibiarkan hancur oleh tumpukan sampah yang tak terurus.
Mujiono

