Tradisi Petik Laut Desa Pesisir Tetap Hidup di Tengah Zaman Berbagai Elemen Masyarakat Larut Dalam Khidmatnya Acara
SITUBONDO, 11 Juli 2025 – Di tengah geliat modernisasi yang perlahan merambah hingga ke pelosok pesisir, masyarakat Desa Pesisir, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, kembali menunjukkan komitmennya merawat warisan leluhur. Hari ini, Jumat pagi, sekitar 750 warga dan tamu undangan memadati Balai Desa dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Desa Pesisir untuk melangsungkan tradisi tahunan yang sakral Petik Laut atau Larung Sesaji Gitek.

Tradisi yang telah turun-temurun sejak zaman nenek moyang ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi spiritual masyarakat nelayan terhadap alam yang telah menjadi sumber penghidupan mereka. Dalam kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB, seluruh elemen masyarakat tumpah ruah dalam suasana khidmat dan penuh harap.
“Petik Laut ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki laut yang diberikan kepada kami, para nelayan. Kami percaya, lewat doa dan selamatan ini, akan datang keberkahan dan keselamatan dalam melaut,” ujar Ahmadi, Kepala Desa Pesisir sekaligus penanggung jawab acara.
Di balai desa, acara dibuka dengan sambutan dari Kades Ahmadi, dilanjutkan pembacaan Surat Yasin, istighosah bersama, dan sholawat. Dipimpin oleh Habib Yusuf Alhirid, suasana religius begitu terasa, menyatu dengan aroma dupa dan harumnya bunga sesaji yang telah dipersiapkan.
Sekitar pukul 08.35 WIB, prosesi larung sesaji dimulai. Dengan iringan doa dan harapan, rombongan berjalan menuju pantai. Di bibir laut, sesaji berupa hasil bumi, kepala Sapi, kembang, dan dupa diletakkan di atas perahu kecil, kemudian dilepaskan ke laut lepas oleh armada tradisional nelayan, 3 perahu besar (selerek) dan 13 perahu kecil.
“Melalui larung sesaji ini, kami bermohon semoga laut tetap bersahabat, hasil tangkapan melimpah, dan seluruh nelayan selalu dalam lindungan Allah SWT,” tutur Camat Besuki, Taufan Andika Jaksana, dalam sambutannya sebelum prosesi pelepasan.
Tak hanya para tokoh pemerintahan yang hadir, acara ini juga mendapatkan pengamanan maksimal dari aparat gabungan. Tercatat, 6 personel Polsek Besuki, 5 personel Satpolairud, anggota Koramil, TNI AL, hingga Banser turut serta memastikan keamanan berlangsung tertib.
AKP Febry Hermawan, Kapolsek Besuki yang bertindak sebagai Perwira Pengendali (Padal), menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman dan lancar. “Kami bersinergi bersama semua unsur agar masyarakat bisa menjalankan tradisi ini tanpa gangguan apa pun,” ujarnya.
Petik Laut bukan sekadar ritual simbolik, tapi juga identitas budaya yang membentuk jati diri warga pesisir. Dalam keseharian yang keras sebagai nelayan, masyarakat Desa Pesisir tetap menyisipkan ruang untuk bersyukur, berdoa, dan bersatu dalam semangat kolektif.
“Bagi kami, laut bukan hanya tempat mencari ikan. Ia adalah bagian dari hidup kami, keluarga kami. Maka kami hargai, kami rawat, dan kami doakan,” ujar H. Jubri C. Fls, ketua panitia acara.
Tradisi yang dikenal juga sebagai Rokat Tase’ ini adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih hidup, bahkan ketika teknologi dan dunia digital mulai masuk ke ruang-ruang kecil desa.
Masyarakat pesisir percaya, menjaga budaya adalah menjaga harmoni dengan alam. Dan di situlah, Petik Laut menjadi lebih dari sekadar acara tahunan, ia adalah jembatan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Eko S.

