Proyek Hotmix dan Drainase di Situbondo Disorot, Diduga Dikerjakan Asal-asalan

SITUBONDO, – Pekerjaan proyek Hotmix Asphalt Concrete-Wearing Course (ACWC) dan drainase di Desa Kembangsari, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo, menuai kritik tajam dari tokoh masyarakat setempat. Proyek senilai ratusan juta rupiah yang didanai APBD 2025 ini diduga dikerjakan secara asal-asalan demi meraup keuntungan besar, dengan indikasi pengurangan volume dan penggunaan material yang tidak sesuai standar.

Taufik Hidayah, S.H., seorang tokoh masyarakat yang juga menjabat Ketua Umum Gerakan Peduli Kebangsaan (GPK), yang menyoroti dugaan kejanggalan ini.

Kualitas Drainase Diragukan
Menurut pantauan di lapangan, kekhawatiran terbesar masyarakat terletak pada kualitas pembangunan saluran drainase. Taufik Hidayah menyebutkan bahwa puluhan meter saluran terlihat rapuh dan kurang kokoh.


“Kalau dilihat langsung, banyak bagian yang kayaknya cuma diplester tipis. Masa bangunan semahal itu, hasilnya kayak gini?” ujar seorang warga Kembangsari yang meminta namanya dirahasiakan, khawatir drainase tersebut tidak akan tahan lama dan cepat rusak.

Dugaan kuat material di bawah standar diperkuat oleh pengakuan salah satu pekerja. Kepada awak media, pekerja tersebut menyampaikan bahwa campuran semen yang digunakan adalah 1 zak semen untuk 4 gerobak pasir, yang disebutnya sebagai “perintah” dari atasan.

Sorotan juga diarahkan pada pekerjaan proyek Hotmix yang dilaksanakan oleh CV. INTAN. Proyek dengan pagu anggaran Rp 370.967.000,00 dengan volume 644 meter, yang dianggarkan melalui Dinas Bina Marga DPUPP Kabupaten Situbondo, terindikasi mengurangi volume ketebalan aspal.
Taufik Hidayah, S.H., menyampaikan bahwa ketebalan aspal secara kasat mata sudah tidak wajar.

“Timbunan aspalnya sangat tipis, tidak sesuai ekspektasi. Saat dihamparkan (gembur), diperkirakan tidak sampai 5 cm. Sehingga ketika digilas saat pemadatan, diperkirakan hanya 2 cm, bahkan kurang dari 2 cm,” tegas Ketua Umum GPK tersebut.

Hasil investigasi di lokasi pengerjaan bahkan mencatat bahwa tingkat ketebalan hotmix saat padat hanya berkisar antara 1,5-3 cm, dengan kualitas aspal AC/WC yang terkesan kasar.

Dugaan pengurangan volume ketebalan ini berpotensi besar merugikan keuangan negara.

Menyikapi temuan ini, Taufik Hidayah, S.H., mendesak adanya audit teknis independen serta evaluasi menyeluruh terhadap kontraktor pelaksana, guna memastikan pekerjaan sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi kontrak.
Dalam semangat mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam pengawasan pencegahan KKN, sesuai PP RI Nomor 43 Tahun 2018, Taufik dan GPK berjanji akan menindaklanjuti temuan ini.

“Kami akan mengadukan secara resmi ke dinas terkait, bahkan kepada Aparat Penegak Hukum (APH), bilamana tidak ada perbaikan dari pihak rekanan atau kontraktor,” ancamnya.

Taufik Hidayah juga mengingatkan pesan Bupati Situbondo, Mas Rio, yang menyerukan pengawasan bersama terhadap proyek-proyek di Situbondo, memastikan kualitasnya awet dan kontraktor bekerja pada batas kewajaran keuntungan (10-15 persen).
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Situbondo belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan penyimpangan teknis ini. Masyarakat pun mempertanyakan fungsi pengawasan dari dinas terkait.

“Kami harap PUPR tidak tutup mata. Pengawasan itu bukan cuma formalitas. Kalau ada yang tidak sesuai spek, harusnya langsung ditindak,” tutup Taufik Hidayah.
Pihak CV. INTAN juga belum memberikan tanggapan atas dugaan yang dialamatkan kepada mereka.

Tim TR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *